Iklan

header ads
www.domainesia.com

Fikih Kesiapsiagaan: Memperkuat Benteng Keluarga Nahdliyin Menghadapi Banjir


Bagi warga NU, kesiapsiagaan adalah manifestasi dari syukur atas anugerah hidup. Memperkuat kesiapsiagaan berarti kita tidak boleh sembrono atau sekadar pasrah tanpa usaha. Kita harus memiliki Kewaspadaan Kolektif yang terukur.

​Berikut adalah tambahan poin untuk memperkuat benteng pertahanan keluarga Anda:

​1. Memperkuat Sistem Peringatan Dini (Early Warning)

​Kesiapsiagaan dimulai dari informasi yang akurat. Jangan menunggu air sampai di teras rumah baru bergerak.

  • Akrab dengan Teknologi: Selain memantau pengumuman dari pengurus RT/RW atau Takmir Masjid, pastikan ada satu anggota keluarga yang memantau aplikasi cuaca atau grup WhatsApp LPBI NU dan BPBD setempat.
  • Tanda Alam dan Kearifan Lokal: Jika hujan lebat tidak berhenti selama lebih dari 2 jam dan jarak pandang terbatas, segera tetapkan status "Waspada" di dalam rumah. Jangan tidur terlalu lelap secara bersamaan; buat pembagian waktu "jaga malam" di antara anggota keluarga pria atau dewasa.

​2. Memperkuat Kemandirian Logistik (Zadul Ma’ad)

​Jangan hanya mengandalkan bantuan dapur umum. Kesiapsiagaan berarti mampu bertahan mandiri di 24 jam pertama.

  • Lumbung Pangan Kecil: Pastikan ada stok makanan siap saji yang tidak perlu dimasak lama (seperti kurma, roti, atau abon) dan air mineral yang cukup untuk seluruh anggota keluarga selama minimal 2 hari.
  • Perangkat Penerangan: Pastikan lampu darurat atau senter selalu terisi daya (full battery). Dalam kegelapan, risiko kecelakaan dan serangan hewan melata meningkat berkali-kali lipat.

​3. Memperkuat Ketahanan Mental & Spiritual (Mental Health)

​Kesiapsiagaan bukan hanya fisik, tapi juga kesiapan mental agar tidak shock.

  • Simulasi Mandiri: Sesekali, ajak anak-anak dan istri/suami berdiskusi: "Jika air naik malam ini, siapa bawa tas apa, dan kita kumpul di mana?" Latihan sederhana ini akan menghilangkan gagap saat kejadian nyata (istilahnya: gladi resik keselamatan).
  • Menanamkan Tawakal yang Benar: Ajarkan keluarga bahwa mengungsi bukan berarti takut, tapi menjalankan perintah agama untuk menjaga nyawa. Dengan mental yang siap, kita bisa membantu menenangkan tetangga yang panik, sehingga suasana lingkungan tetap kondusif.

​4. Sinergi dengan Komunitas (Ukhuwah Wadzi'iyyah)

​Kekuatan warga NU ada pada jam'iyyah (organisasi).

  • Koneksi Banser & LPBI: Pastikan kepala keluarga memiliki nomor kontak Satkorwil/Satkoryon Banser setempat. Banser biasanya menjadi garda terdepan dalam evakuasi. Sinergi ini mempercepat proses pertolongan jika ada anggota keluarga yang terjebak.

​Doa Penguat Kesiapsiagaan

​Sebagai tambahan benteng batin, bacalah doa ini setiap pagi dan petang sebagai permohonan perlindungan total:

Bismillahi ladzi la yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wala fis samai wahuwas sami’ul ‘alim.

(Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).

close
Pasang Iklan Disini