Iklan

header ads
www.domainesia.com

Memetik Hikmah Mitigasi dari Bahtera Nabi Nuh AS: Ikhtiar di Atas Tawakal

 



Dalam khazanah sirah nabawiyah, kisah Nabi Nuh AS seringkali dibahas dari sisi keteguhan dakwahnya selama 950 tahun. Namun, jika kita selami lebih dalam dengan kacamata kekinian, Nabi Nuh AS adalah sosok "Bapak Mitigasi Bencana" yang mengajarkan kita bahwa kesalehan spiritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan ekologis dan kesiapsiagaan teknis.

​Bagi kaum Nahdliyin, menjaga keselamatan jiwa (hifdzun nafs) adalah salah satu dari lima prinsip dasar hukum Islam (al-dharuriyyat al-khamsah). Kisah Nabi Nuh memberikan panduan komprehensif mengenai Upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang sangat relevan dengan kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana.

​1. Early Warning System (Peringatan Dini) Berbasis Wahyu

​Nabi Nuh tidak membangun kapal karena sekadar hobi. Beliau mendapatkan "informasi awal" tentang akan datangnya banjir besar. Dalam konteks modern, ini adalah pentingnya mempercayai data sains dan sistem peringatan dini.

​Saat ini, Allah memberikan "ilmu" melalui BMKG atau BNPB. Mengabaikan peringatan dini bencana sama saja dengan sikap kaum Nabi Nuh yang meremehkan peringatan beliau. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa data, melainkan bersiap berdasarkan tanda-tanda yang ada.

​2. Mitigasi Struktural: Membangun Bahtera di Atas Bukit

​Salah satu poin paling menarik adalah perintah membangun bahtera (safinah). Allah Maha Kuasa untuk menyelamatkan Nuh hanya dengan kalimat "Kun Fayakun", namun Allah memerintahkan Nuh untuk bekerja keras memahat kayu dan menyusun papan.

​Ini adalah pesan kuat tentang Mitigasi Struktural. Nabi Nuh mengajarkan bahwa:

  • Kualitas Konstruksi: Kapal harus kuat menahan beban dan terjangan ombak.
  • Lokasi Strategis: Pembangunan dilakukan sebelum bencana datang (masa tenang), bukan saat air sudah di mata kaki.
  • Kemandirian: Menggunakan sumber daya lokal (kayu) untuk memecahkan masalah lokal.

​3. Mitigasi Non-Struktural: Edukasi dan Konsolidasi

​Selama proses pembangunan kapal, Nabi Nuh tak henti-hentinya melakukan sosialisasi. Meski banyak yang mencibir (seperti fenomena hoax atau skeptisisme terhadap bencana saat ini), beliau tetap konsisten mengedukasi umatnya.

​Dalam konteks NU, ini mirip dengan peran kiai dan santri di pesantren yang memberikan edukasi tanggap bencana kepada warga sekitar. Mitigasi bukan hanya soal fisik, tapi juga soal kesadaran kolektif masyarakat.

​4. Manajemen Evakuasi yang Inklusif

​Nabi Nuh mengatur siapa saja yang masuk ke dalam kapal: para pengikut yang beriman dan pasangan hewan-hewan. Ini adalah bentuk manajemen logistik dan evakuasi yang rapi.

  • Skala Prioritas: Menyelamatkan nyawa adalah prioritas utama.
  • Keberlanjutan Ekosistem: Membawa hewan berpasangan menunjukkan visi Nabi Nuh tentang pemulihan pascabencana (post-disaster recovery) agar kehidupan lingkungan tetap berlanjut.

​Penutup: Jangan Menjadi "Putra Nuh" yang Skeptis

​Kisah Kan’an, putra Nabi Nuh, adalah peringatan bagi kita semua. Ia merasa aman hanya dengan mendaki gunung tinggi tanpa mengikuti prosedur keselamatan yang telah ditetapkan. Dalam ilmu bencana, ini disebut sebagai false sense of security atau rasa aman palsu.

​Kita tidak boleh sombong dengan merasa "daerah saya aman" tanpa adanya ikhtiar mitigasi. Sebagai warga Nahdliyin yang menjunjung tinggi kaidah:

"Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih" > (Mencegah kerusakan harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan)


​Maka, membangun kesiapsiagaan bencana adalah bagian dari ibadah dan manifestasi dari keimanan kita kepada Allah SWT. Bahtera itu bukan sekadar kayu yang mengapung, ia adalah simbol dari perpaduan antara doa yang langit dan ikhtiar yang membumi.

Wallahu a’lam bisshowab.

close
Pasang Iklan Disini