PASURUAN — Sekretaris Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kabupaten Pasuruan, Aris Felani, berbagi pengalaman dan praktik baik penguatan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim dan risiko bencana kepada mahasiswa jurnalistik dari Denmark melalui Zoom Meeting, Kamis (17/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Aris hadir sebagai narasumber sekaligus perwakilan Nahdlatul Ulama (NU) untuk membahas tema Green Islam, Climate Change, and Disaster Risk Reduction. Diskusi bersama perwakilan mahasiswa Denmark, Jonas, tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman mengenai peran organisasi keagamaan dan masyarakat dalam menjaga lingkungan serta membangun ketangguhan menghadapi bencana.
Aris Felani Paparkan Praktik Baik Green Islam
Dalam pemaparannya, Aris Felani menjelaskan bahwa Green Islam tidak hanya berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga penerapan nilai-nilai Islam melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia membagikan sejumlah pengalaman yang telah dilakukan melalui LPBINU Kabupaten Pasuruan dan jejaring kolaborasi, seperti edukasi kebencanaan, penguatan desa tangguh, pelibatan pemuda dan relawan, pemberdayaan perempuan, serta penguatan inklusi bagi kelompok rentan dan penyandang disabilitas.
Aris juga menyampaikan pengalaman dalam merespons persoalan kekeringan di Kabupaten Pasuruan, khususnya pentingnya pemetaan wilayah terdampak, penggunaan data, dan kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung distribusi bantuan air bersih agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Green Islam tidak hanya berbicara tentang menjaga alam, tetapi juga bagaimana kita membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat untuk melindungi kehidupan serta menciptakan kemaslahatan bersama,” jelas Aris dalam diskusi tersebut.
Jonas dan Mahasiswa Denmark Tanyakan Model Keberlanjutan
Dalam sesi dialog, Jonas, perwakilan mahasiswa jurnalistik Denmark, mengajukan pertanyaan mengenai model keberlanjutan yang dapat diterapkan dalam kegiatan Green Islam dan pengurangan risiko bencana.
Pertanyaan tersebut mengarah pada bagaimana praktik baik yang telah dilakukan bersama masyarakat dapat terus berjalan dalam jangka panjang, sehingga tidak hanya berhenti sebagai sebuah program atau kegiatan sesaat.
Menjawab pertanyaan tersebut, Aris menjelaskan bahwa keberlanjutan harus dibangun melalui penguatan kapasitas masyarakat, keterlibatan generasi muda, kolaborasi multipihak, serta pengembangan program yang berdasarkan kebutuhan dan kondisi lokal.
Menurut Aris, masyarakat perlu ditempatkan sebagai pelaku utama dalam upaya pengurangan risiko bencana. Oleh karena itu, setiap program perlu mendorong peningkatan pengetahuan, keterampilan, kepemimpinan lokal, dan kemampuan masyarakat untuk melanjutkan kegiatan secara mandiri.
Beberapa pendekatan keberlanjutan yang disampaikan meliputi:
1. Penguatan kapasitas masyarakat, melalui edukasi dan pelatihan yang berkelanjutan.
2. Kaderisasi pemuda dan relawan, untuk memastikan adanya generasi penerus dalam gerakan lingkungan dan kebencanaan.
3. Kolaborasi lintas sektor, dengan melibatkan pemerintah, organisasi keagamaan, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
4. Pemetaan serta pemanfaatan data, sebagai dasar penyusunan program yang tepat sasaran.
5. Pelibatan kelompok rentan, agar upaya pengurangan risiko bencana berjalan inklusif dan tidak meninggalkan kelompok masyarakat tertentu.
“Keberlanjutan harus dimulai dari masyarakat. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan untuk terlibat, mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam menjaga lingkungan dan mengurangi risiko bencana,” ungkap Aris.
Pertukaran Pengalaman Indonesia dan Denmark
Diskusi melalui Zoom Meeting ini menjadi kesempatan bagi Aris Felani untuk memperkenalkan pengalaman lokal dari Kabupaten Pasuruan kepada mahasiswa jurnalistik Denmark.
Pembahasan juga memperlihatkan pentingnya pertukaran perspektif antarnegara dalam memahami tantangan perubahan iklim. Pengalaman masyarakat di Indonesia, khususnya dalam menghadapi kekeringan dan berbagai ancaman bencana, dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai pentingnya pendekatan berbasis komunitas.
Bagi NU, pendekatan Green Islam dapat menjadi bagian dari penguatan peran organisasi dalam bidang lingkungan, kemanusiaan, dan pengurangan risiko bencana. Nilai-nilai keagamaan dapat menjadi landasan untuk mendorong kepedulian, tanggung jawab sosial, dan kerja sama dalam menjaga keberlanjutan kehidupan.
Pertemuan bersama Jonas dan mahasiswa jurnalistik Denmark tersebut diharapkan dapat memperluas ruang kolaborasi dan pertukaran pengetahuan mengenai solusi perubahan iklim, penguatan masyarakat, serta praktik baik pengurangan risiko bencana yang dilakukan di tingkat lokal.
Green Islam: menjaga alam, melindungi kehidupan, dan memperkuat masyarakat melalui kolaborasi berkelanjutan.
